Falsafah adalah pedanan kata
dari filsafat yang diserap dari bahasa Arab. Filsafat berasal dari bahasa
Yunani philosophia atau philosophos. Philos atau philein berarti
teman atau cinta, dan shopia/ shopos memiliki arti kebijaksaan,
pengetahuan, dan hikmah atau berarti. Secara etimologi filsafat berarti cinta
kebijaksanaan atau kebenaran (love of
wisdom) Berikut ini pengertian filsafat menurut beberapa ahli:
1.
Phytagoras (57S – 497), ditahbiskas
sebagai orang pertama yang memakai kata philosopia
yang berarti pecinta kebijaksanaan (lover
of wisdom) bukan kebijaksaan itu sendiri.
2.
Plato, mengartikannya sebagai ilmu
pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang hakiki lewat dialektika.
3.
Aristoteles, mendefinisikan filsafat
sebagai pengetahuan tentang kebenaran.
4.
Al-Farabi, mengartikan filsafat sebagai
kumpulan tentang alam maujud dan
hakekat alam yang sebenarnya.
5.
Descartes, mendefinisikan filsafat
sebagai kumpulan ilmu pengetahuan tentang Tuhan, alam, dan manusia.
6.
Immanuel Kant,mMendefinisikan filsafat sebagai
ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan.
Filsafat
berarti juga mater scientarum yang
artinya induk dari segala ilmu pengetahuan. Filsafat tidak membatasi objek
materialnya tetapi hanya membatasi objek formalnya. Manusia, misalnya sebagai
objek material, bisa dipelajari dari berbagai sudut pandang: Biologi,
Kedokteran, Psikologi, dll (termasuk Filsafat). Sudut pandang pembahasan inilah
yang disebut sebagai objek formal. Objek formal ialah cara pendekatan pada
suatu objek material yang sedemikian khas sehingga mencirikan, atau
mengkhususkan bidang kegiatan bersangkutan, baik itu pengetahuan, agama, ataupun
kesenian, dan sebagainya. Objek formal Filsafat adalah berusaha mendapatkan
‘hakikat’ sesuatu. Kekhususan dan ciri khas filsafat dapat dijelaskan, kalau
objek formalnya ditentukan.
Filsafat
dalam perkembangannya melahirkan cabang-cabang ilmu, yang berkembang menjadi
ranting-ranting ilmu, sub-ranting ilmu. Filsafat jika ditempatkan dalam konteks
hidup orang yang beriman, maka lahirlah cabang filsafat, yakni filsafat
ketuhanan. Menggunakan cara yang sama, tampillah cabang-cabang filsafat
lainnya: filsafat manusia dan filsafat alam. Ketiga cabang filsafat tersebut
sebenarnya tak boleh dipisahkan satu sama lainnya, karena manusia, alam dan
ketuhanan disoroti menurut sebab-sebab terakhir yang selalu meliputi ketiga
cabang tersebut. Terdapat bebagai filsafat selain ketiga cabang filsafat
tersebut yang memberi arah sehingga dinamika filsafat sebagai proses
‘pengembaraan menuju’ harapan yang baik dapat terwujud. Filsafat tersebut
adalah Etika. Etika menyoroti tingkah laku manusia agar ia hidup dan
berperilaku dengan baik. Pembagian cabang-cabang filsafat ini belum selesai,
karena sorotan pembahasan atas manusia, alam, ketuhanan dan patokan-patokan etis
harus terjadi secara benar. Hal ini melahirkan satu cabang filsafat lagi, yakni
filsafat pengetahuan.
Filsafat
tujuannya bukan pada fenomena. Seperti yang diketahui Ilmu Empiris berbicara
tentang fenomena, menganalisis dan membandingkan fenomena, mengambil kesimpulan
dari fenomena-fenomena tersebut. Ilmu empiris pada akhirnya merumuskan
hukum-hukum yang berlaku pada fenomena tersebut. Filsafat berbicara tentang apa
yang ada di belakang fenomena (meta-fenomena), menembus batas-batas fenomena,
dan mencari prinsip-prinsip yang mendasari fenomena. Misal, apa yang hakiki
dari manusia? Aristoteles menjawabnya dengan menyebut makhluk yang rasional.
Karl Marx menyebutnya dengan makhluk yang bekerja.
Apa
yang dapat disaksikan jika diselidiki di luar dan di dalam diri kita, ternyata
tidak pernah satu pengetahuan pun memuaskan hati atau akal budi manusia secara
tuntas. Artinya, segala hasil pengetahuan bersifat sementara dan terbuka.
Itulah ciri khas pengetahuan yakni bertanya sambil mencari, yang merupakan
sintesis tiada henti antara “sudah tahu” dan “belum tahu”. Setiap tindakan
pengetahuan menyiratkan adanya gejala “kesadaran akan pengetahuan”. Apabila
unsur tersirat itu diucapkan menjadi tersurat, maka terjadilah apa yang disebut
refleksi. Berkat refleksi, pengetahuan kehilangan kelangsungan dan
spontanitasnya, tetapi serentak pengetahuan itu mulai cocok untuk diatur secara
sistematis sedemikian rupa sehingga isinya dapat dipertanggung-jawabkan.
Menurut
Plato, satu-satunya pengetahuan sejati ialah apa yang disebutnya episteme,
yaitu pengetahuan yang tunggal dan tak berubah, sesuai dengan ide-ide abadi. Di
dunia yang fana ini hanya terdapat bayangan dari yang baka. Bayangan itu
banyak, bermacam-macam dan tak henti-hentinya berubah. Apabila manusia
mengamati bayangan-bayangan itu, maka teringatlah ia akan ide-ide yang pernah
dipandangnya dulu sewaktu belum masuk penjara badannya. Maka, pengetahuan yang
dicita-citakan Plato itu ditafsirkannya sebagai hasil ingatan yang melekat
padanya (jadi, apriori). Dan ingatan itu berlangsung berdasarkan intuisi yang
pernah dialami jiwanya. Menurut Plato, kelompok ilmu yang bersifat paling
apriori adalah ilmu pasti. Karena itu ilmu pasti dijadikan syarat mutlak untuk
dapat berilmu. Semboyan sekolah Plato berbunyi: “Yang tak berpengalaman dalam
matematika dilarang masuk”.
Aristoteles,
murid Plato, mengganti konsep ‘ingatan’ dan ‘intuisi’-nya Plato dengan
abstraksi. Menurut dia, tercapainya pengetahuan sebagai hasil kegiatan manusia
yang mengamati kenyataan yang banyak dan yang berubah, lalu melepaskan
unsur-unsur “universal” dari yang “partikular”. Dalam pengetahuan episteme itu
manusia tidak hanya tahu “tentang” melainkan juga “mengapa” terdapatnya atau
terjadinya sesuatu. Dengan demikian, Aristoteles bertolak dari pengamatan dan
penelitian aposteriori dan menggabungkannya dengan model apriori. Sedangkan
Plato mengutamakan model ilmu apriori.
Jadi,
perbedaan antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan terletak pada sifat teratur
dan sistematis yang nampak dalam ilmu pengethuan agar hasilnya dapat
dipertanggungjawabkan secara teoritis dan reflektif. Dengkan kata lain, cara
kerja atau metode ilmu pengetahuanlah yang menjadi ciri ilmu, kalau
dibandingkan dengan pengetahuan sehari-hari.
REFERENSI:
ejournal.undip.ac.id/index.php/humanika/article/download/5313/4774/filsafat+ilmu
pengetahuan.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar