Jumat, 22 September 2017

ETIKA PROFESI: MATERI 2

PROFESI DAN PROFESIONALISME


A.      Menjelaskan Mengenai Profesionalisme
Profesionalisme adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya (Saptadi, 2016).
Menurut Arens et al., (2008), profesionalisme merupakan tanggung jawab untuk bertindak lebih dari sekedar memenuhi tanggung jawab diri sendiri maupun ketentuan hukum dan peraturan masyarakat (Arens, 2008).
Profesionalisme menurut Kamaus Besar Bahasan Indonesia adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional (KBBI, 2005).
Profesionalisme merupakan sikap dari seorang profesional, dan profesional berarti melakukan sesuatu sebagai pekerjaan pokok yang disebut profesi, artinya pekerjaan tersebut bukan pengisi waktu luang atau sebagai hobi belaka. Jika profesi diartikan sebagai pekerjaan dan isme sebagai pandangan hidup, maka profesional dapat diartikan sebagai pandangan untuk selalu berfikir, berpendirian, bersikap dan bekerja sungguh-sungguh, kerja keras, bekerja sepenuh waktu, disiplin, jujur, loyalitas tinggi dan penuh dedikasi demi keberhasilan pekerjaannya. Jadi pada dasarnya profesionalisme berkenaan dengan sikap peduli baik terhadap klien atau pun terhadap profesinya, Seperti yang diungkapkan oleh David H. Maister bahwa profesionalisme adalah terutama masalah sikap, bukan seperangkat kompetensi. Seorang professional sejati adalah seorang teknisi yang peduli (Maister, 1998).
Berdasarkan pemaparan mengenai konsep profesionalisme, dapat disimpulkan bahwa, yang paling utama profesionalisme berkenaan dengan 13 sikap dan nilai-nilai yang dimunculkan oleh para profesional dalam menjalani aktivitas dan tanggung jawab profesinya. Seseorang dengan profesi tertentu mungkin memiliki keterampilan atau kompetensi yang tinggi di bidang keahliannya, tetapi dia belum bisa dikatakan profesional sebelum secara handal dan konsisten mampu mendemonstrasikannya melalui sikap peduli terhadap klien dan pekerjaannya.
Hall. R mengembangkan konsep profesionalisme dari level individu  meliputi lima dimesi yaitu (Rifqi, 2008):
a.  Pengabdian pada profesi (dedication), yang tercermin dalam dedikasi profesional melalui penggunaan pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki. Sikap ini adalah ekspresi dari penyerahan diri secara total terhadap pekerjaan. Pekerjaan didefinisikan sebagai tujuan hidup dan bukan sekedar sebagai alat untuk mencapai tujuan. Penyerahan diri secara total merupakan komitmen pribadi dan sebagai kompensasi utama yang diharapkan adalah kepuasan rohani dan kemudian kepuasan material.
b.   Kewajiban Sosial (Social obligation), yaitu pandangan tentang pentingnya paran profesi serta manfaat yang diperoleh baik oleh masyarakat atau pun oleh profesional karena adanya pekerjaan tersebut.
c.   Kemandirian (Autonomy demands), yaitu suatu pandangan bahwa seorang professional harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa ada tekanan dari pihak yang lain.
d.   Keyakinan terhadap peraturan profesi (belief in self-regulation), yaitu suatu keyakinan bahwa yang berwenang untuk menilai pekerjaan profesional adalah rekan sesama profesi, dan bukan pihak luar yang tidak mempunyai kompetensi dalam bidang ilmu dan pekerjaan mereka.
e.  Hubungan dengan sesama profesi (Professional community affiliation), berarti menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk organisasi formal dan kelompok-kelompok kolega informal sebagai sumber ide utama pekerjaan. Melalui ikatan profesi ini para profesional membangun kesadaran profesinya.
Sementara itu Maister mengisyaratkan profesionalisme pada level individu meliputi 4 (empat) dimensi yaitu (Maister, 1998):
a.       Kebanggaan pada pekerjaan
b.      Komitmen pada kualitas
c.       Dedikasi pada kepentingan klien
d.      Keinginan tulus untuk membantu
Profesionalisme memiliki beberapa ciri-ciri. Maister mengatakan bahwa ciri-ciri profesionalisme sejati yaitu (Maister, 1998) :
a.       Bangga pada pekerjaan mereka, dan menunjukkan komitmen pribadi pada kualitas.
b.      Berusaha meraih tanggung jawab.
c.       Mengantisipasi, dan tidak menunggu perintah, mereka menunjukkan inisiatif.
d.      Mengerjakan apa yang perlu dikerjakan untuk merampungkan tugas.
e.   Melibatkan diri secara aktif dan tidak sekedar bertahan pada peran yang telah ditetapkan untuk mereka.
f.     Selalu mencari cara untuk membuat berbagai hal menjadi lebih mudah bagi orang yang mereka layani.
g.      Ingin belajar sebanyak mungkin mengenai bisnis orang-orang yang mereka layani.
h.      Benar-benar mendengarkan kebutuhan orang-orang yang layani.
i.   Belajar memahami dan berfikir seperti orang-orang yang mereka layani sehingga bisa mewakili mereka ketika orang-orang itu tidak ada ditempat.
j.       Adalah pemain tim.
k.      Bisa dipercaya memegang rahasia. l. Jujur, bisa dipercaya dan setia.
l.        Terbuka pada kritik-kritik yang membangun mengenai cara meningkatkan diri.
Mahfud MD menunjukan beberapa karakteristik budaya akademis yang berpengaruh terhadap profesionalisme sebagai berikut (Wangmuba, 2009) :
a.       Bangga atas pekerjaannya dengan komitmen pribadi yang kuat dan berkualitas.
b.      Memiliki tanggungjawab yang besar, antisipatif dan penuh inisiatif.
c.  Ingin selalu menegrjakan pekerjaan dengan tuntas dan ikut terlibat dalam berbagai peran diluar pekerjaannya.
d.      Ingin terus belajar untuk meningkatkan kemampuan kerja dan kemampuan melayani.
e.       Mendengar kebutuhan pelanggan dan dapat bekerja dengan baik dalam suatu tim.
f.       Dapat dipercaya, jujur, terus terang dan loyal.
g.  Terbuka terhadap kritik yang bersifat konstruktif serta selalu siap untuk meningkatkan dan menyempurnakan dirinya.

DAFTAR PUSTAKA:
Saptadi, N. Tri Suswanto. 2016. Pengertian Profesi dan Profesionalisme. Makasar: Universitas Atma Jaya. Diunduh pada http://fti.uajm.ac.id/ajar/Etika%20Profesi%20Komputer/02%20Pengertian%20Profesi%20dan%20Profesionalisme.pdf (Tanggal 22 September 2017 Pukul 17.22 WIB)
Arens, et al. 2008. Auditing and Assurance Service: An Integrated Approach. Jakarta: Erlannga.
Hasan, Alwi dkk. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Balai Pustaka.
Maister, H. David. 1998. True Professionalism. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Rifqi, Muhammad. 2008. Analisis Hubungan antara Profesionalisme Auditor dengan Pertimbangan Tingkat Materialitas dalam Proses Pengauditan Laporan Keuangan. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia. Diunduh pada http://journal.uii.ac.id/index.php/Fenomena/article/view/193 (Tanggal 22 September 2017 Pukul 17.41 WIB).

Soal + Jawaban:
1.      Profesionalisme adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Merupakan pengertian dari?
a.       Arens, et al.
b.      Muhammad Rifqi
c.       Maister
d.      Saptadi
2.      Profesionalisme menurut Kamaus Besar Bahasan Indonesia mencakup?
a.       Mutu
b.      Kualitas
c.       a dan b benar
d.      a dan b salah
3.  Hall. R mengembangkan konsep profesionalisme dari level individu  meliputi lima dimesi, kecuali?
a.       Pengabdian pada profesi
b.      Kejujuran
c.       Kewajiban sosial
d.      Kemandirian
4.      Maister mengatakan bahwa ciri-ciri profesionalisme sejati yaitu. Kecuali?
a.       Sebagai sarana menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang
b.      Berusaha meraih tanggung jawab.
c.       Mengantisipasi, dan tidak menunggu perintah, mereka menunjukkan inisiatif.
d.      Bangga pada pekerjaan mereka, dan menunjukkan komitmen pribadi pada kualitas.
5.   Mahfud MD menunjukan beberapa karakteristik budaya akademis yang berpengaruh terhadap profesionalisme sebagai berikut, kecuali?
a.     Ingin selalu menegrjakan pekerjaan dengan tuntas dan ikut terlibat dalam berbagai peran diluar pekerjaannya.
b.      Ingin terus belajar untuk meningkatkan kemampuan kerja dan kemampuan melayani.
c.       Mendengar kebutuhan pelanggan dan dapat bekerja dengan baik dalam suatu tim.
d.      Mengerjakan apa yang perlu dikerjakan untuk merampungkan tugas.


B.       Menjelaskan Ciri-Ciri Dari Seorang Profesional Di Bidang Teknik Secara Umum
Sebuah profesi pasti memiliki ciri-ciri yang membedakan antara satu profesi dengan profesi lainnya. Ciri-ciri profesi bidang teknik pasti berbeda dengan profesi bidang hukum. Adapun ciri-ciri seorang profesionanal di bidang teknik secara umum adalah sebagai berikut (Kurniawan, 2005).
1.  Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis, Seorang professional harus memiliki pengetahuan teoretis dan keterampilan mengenai bidang teknik yang ditekuni dan bisa diterapkan dalam pelaksanaanya atau prakteknya dalam kehidupan sehari-hari.
2.  Asosiasi Profesional, Merupakan suatu badan organisasi yang biasanya diorganisasikan oleh anggota profesi yang bertujuan untuk meningkatkan status para anggotanya.
3.   Pendidikan yang Ekstensi, Profesi yang prestisius biasanya memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi. Seorang professional dalam bidang teknik mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi baik itu dalam suatu pendidikan formal ataupun non formal.
Menurut artikel dalam International Encyplodia of Education, ada 10 ciri-ciri profesi bidang teknik secara umum, yaitu (Kusuma, 2004):
1.  Suatu bidang pekerjaan yang terorganisir dari jenis intelektual yang terus berkembang dan diperluas
2.     Suatu teknik intelektual
3.     Penerapan praktis dari teknik intelektual pada urusan praktis
4.     Suatu periode panjang untuk pelatihan dan sertifikasi
5.     Beberapa standar dan pernyataan tentang etika yang dapat diselenggarakan
6.     Kemampuan untuk kepemimpinan pada profesi sendiri
7.  Asosiasi dari anggota profesi yang menjadi suatu kelompok yang erat dengan kualitas komunikasi yang tinggi antar anggotanya
8.     Pengakuan sebagai profesi
9.     Perhatian yang profesional terhadap penggunaan yang bertanggung jawab dari pekerjaan profesi
10. Hubungan yang erat dengan profesi lain

DAFTAR PUSTAKA:
Kurniawan, Defri. 2017. Etika, Etika Profesi, Dan Kode Etik Perekam Medis. Semarang: Universitas Dian Nuswantoro. Diunduh pada: http://dinus.ac.id/repository/docs/ajar/etika_profesi.pdf (Tanggal 22 September 2017 Pukul 18.43 WIB).
Kusuma, Tubagus Maulana. 2004. Etika Dan Profesionalisme  Dalam Teknologi Sistem Komputer/ Informasi. Depok: Universitas Gunadarma. Diunduh pada: mkusuma.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/11837/W01-Pengertian+Etika.pdf (Tanggal 22 September 2017 Pukul 18.46 WIB)

Soal + Jawaban:
1.     Ciri-ciri seorang profesionanal di bidang teknik secara umum menurut Kurniawan adalah sebagai berikut, kecuali!
a.       Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis
b.      Wawasan
c.       Asosiasi Profesional
d.      Pendidikan yang Ekstensi
2.   Profesi yang prestisius biasanya memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi. Seorang professional dalam bidang teknik mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi baik itu dalam suatu pendidikan formal ataupun non formal. Merupakan pengertian dari?
a.         Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis
b.         Wawasan
c.         Asosiasi Profesional
d.        Pendidikan yang Ekstensi
3.  Merupakan suatu badan organisasi yang biasanya diorganisasikan oleh anggota profesi yang bertujuan untuk meningkatkan status para anggotanya. Merupakan pengertian dari?
a.       Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis
b.      Wawasan
c.       Asosiasi Profesional
d.      Pendidikan yang Ekstensi
4.  Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis, Seorang professional harus memiliki pengetahuan teoretis dan keterampilan mengenai bidang teknik yang ditekuni dan bisa diterapkan dalam pelaksanaanya atau prakteknya dalam kehidupan sehari-hari.
a.      Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis
b.      Wawasan
c.       Asosiasi Profesional
d.      Pendidikan yang Ekstensi
5.      Menurut artikel dalam International Encyplodia of Education, ada 10 ciri-ciri profesi bidang teknik secara umum, yaitu kecuali!
a.       Hubungan yang erat dengan profesi lain
b.      Suatu teknik intelektual
c.       Penerapan praktis dari teknik intelektual pada urusan praktis
d.      Memiliki kemampuan komunikasi


C.      Menjelaskan Mengenai Ciri-Ciri Dari Seorang Profesional Di Bidang Teknik Industri Secara Khusus
Sebagai disiplin ilmu keteknikan yang tergolong “baru”, profesi Teknik Industri lahir sejak ada persoalan produksi, sejak manusia harus mewujudkan sesuatu untuk memenuhi keperluan hidupnya, dan sejak manusia ada (Taroepratjeka, 1999).
Sesuai dengan “nature”-nya, industri bisa diklasifikasikan secara luas yaitu mulai dari industri yang menghasilkan produk-barang fisik (manufaktur) sampai ke produk-jasa (service) yang nonfisik. Industri juga bisa kita bentangkan dalam pola aliran hulu-hilir sampai ke skala kecil-menengah-besar. Demikian juga problematika yang dihadapi oleh industri --- yang kemudian menjadi fokus kajian disiplin Teknik Industri --- bisa terfokus dalam ruang lingkup mikro (lantai produksi) dan terus melebar luas mengarah ke problematika manajemen produksi (perencanaan, pengorganisasian, pengoperasian dan pengendalian sistem produksi) yang harus memperhatikan sistem lingkungan (aspek politik-sosial-ekonomi-budaya maupun hankam) dalam setiap langkah pengambilan keputusan berdimensi strategik. Disiplin Teknik Industri melihat setiap persoalan dengan metode pendekatan sistem dimana segala keputusan yang diambil juga selalu didasarkan pada aspek teknis (engineering area) dan aspek non-teknis. Wawasan “Tekno-Sosio-Ekonomi” akan mewarnai penyusunan kurikulum pendidikan Teknik Industri dan merupakan karakteristik yang khas yang menggambarkan ciri keunggulan serta membedakan disiplin ini dengan disiplindisiplin keteknikan yang lainnya (Wignjosoebroto, 2000).
Teknik industri memiliki ciri-ciri yang menbedakannya dengan profesi teknik lainnya. Adapun ciri-ciri profesi teknik industri adalah sebagai berikut (Halim, 2012).
1.      Pendekatan Sistem
Teknik industri dapat dilihat sebagai sebuah pendekatan atau cara pikir dalam proses pemecahan masalah real world melalui strukturisasi permasalahan dan pencarian solusi terhadap masalah tersebut. Strukturisasi permasalahan disebut proses pemodelan dan pencarian solusi bagi masalah real world dilakukan melalui pencarian solusi bagi model. Kegagalan dalam strukturisasi masalah akan menyebabkan model yang dihasilkan tidak realistik, dan, pada gilirannya, solusi yang dihasilkan hanya solusi untuk model, bukan solusi untuk masalah real world.
2.      Disiplin Enjiniring
Secara eksplisit ABET 2012 - 2013 menyebutkan bahwa seorang industrial engineer harus mampu melakukan perancangan, pengembangan, penerapan dan perbaikan sistem integral yang terdiri dari manusia, bahan (meterial), informasi, peralatan dan energi. ABET 2012 - 2013 juga menyebutkan outcome seorang industrial engineer adalah sebagai berikut:
a.   Memiliki kemampuan untuk menggunakan matematika, sains dan prinsip enjiniring dalam memecahkan masalah teknik industri (industrial engineering problems)
b.      Memiliki kemampuan untuk merancang dan menjalankan percobaan, serta menganalisis dan menginterpretasikan data dalam rangka pemecahan masalah teknik industri
c.  Memiliki kemampuan untuk menerapkan pendekatan sistem melalui identifikasi dan perancangan sistem, komponen, atau proses
d.      Memiliki kemampuan untuk berperan dalam team multidisiplin
e.  Memililiki kemampuan untuk melakukan identifikasi, formulasi, dan pemecahan masalah teknik industri melalui pendekatan sistem
f.       Memiliki pemahaman tanggungjawab profesional dan etika
g.      Memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif
h.   Memiliki kemampuan untuk memahami dampak solusi yang dihasilkan terhadap konteks global, ekonomi, lingkungan dan sosial
i.        Memiliki kemampuan untuk melakukan belajar sepanjang hayat
j.        Memiliki pengetahuan tentang issue kontemporer
k.  Memiliki kemampuan untuk menggunakan pendekatan, teknik, keterampilan, dan alat modern dalam rangka pemecahan masalah teknik industri
3.     Bahasan Teknik Industri
Permasalahan yang dipecahkan oleh seorang industrial engineer tidak terbatas hanya kepada suatu sistem tertentu. Teknik Industri bukan hanya digunakan pada bidang manufaktur, tetapi dapat digunakan pada industri jasa, organisasi non-profit dan pemerintahan. Jadi batasan sistem yang ditangani oleh bidang Teknik Industri ini bukan terletak pada obyek atau metoda solusi tetapi terletak pada ciri sistem. Sepanjang ciri sistem ini ditemukan pada bidang apapun, maka Teknik Industri dapat diterapkan. Ciri-ciri industrial engineering problems dapat disebutkan sebagai berikut:
a.  Sistem terdiri dari subsistem manusia, bahan (material), mesin/peralatan, informasi, dan energi, atau subsistem yang analog dengan perilaku subsistem tersebut
b.      Memiliki tujuan atau kriteria yang ingin dicapai, baik single maupun multiple objectives
c.       Memiliki sejumlah kendala yang menghambat ketercapaian tujuan
d.      Memiliki sejumlah solusi alternatif yang berada pada solusi layak (feasible solutions)
e.  Pemilihan sebuah atau beberapa alternatif menyebabkan kehilangan kesempatan untuk mendapat manfaat dari alterntif-alternatif lain yang tidak dipilih (trade off di antara solusi alternatif yang tersedia)
Teknik Industri juga bisa dilihat sebagai ilmu yang melakukan pencarian solusi optimal (near optimal atau acceptable solutions) dari permasalahan pada sistem kompleks. Langkah pemecahan masalah berdasarkan Teknik Industri adalah sebagai berikut:
a.       Pendefinisian masalah
b.      Identifikasi output (karakteristik output). Ini adalah O dalam model IPOF
c.   Identifikasi input yang diperlukan untuk menghasilkan output tersebut. Ini adalah I dalam model IPOF
d. Perancangan sistem yang akan melakukan konversi input menjadi output. Kriteria perancangan sistem adalah efisien, efektif, dan berkelanjutan (sustainable, robust). Ini adalah P dalam model IPOF
e. Peninjauan ulang setiap saat dalam rangka perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Ini adalah F dalam model IPOF
Langkah-langkah inipun bersifat generik dan dapat diberlakukan pada sistem apapun. Sifat generik ini tidak berarti bahwa seorang industrial engineer adalah seorang yang super yang dapat memecahkan masalah apapun, tetapi dapat dikatakan bahwa seorang industrial engineer adalah orang yang menguasai sebuah metodologi yang dapat diterapkan pada sistem apapun. Jadi penguasaan metodologi ini merupakan necessary condition bagi kesuksesan seorang industrial engineer dalam menjalankan profesinya (Halim, 2012).
DAFTAR PUSTAKA
Halim, Abdul Hakim. 2012. Menuju Penyusunan Strategi Peningkatan Daya Saing Pendidikan Tinggi Teknik Industri. Bandung: Institut Teknologi Bandung. Diunduh pada http://bkti-pii.or.id/home/wp-content/uploads/2014/06/Menuju-Penyusunan-Strategi-Peningkatan-Daya-Saing-Pendidikan-Tinggi-Teknik-Industri.pdf (Tanggal 22 September 2017 Pukul 19.27 WIB)
Taroepratjeka. H., 1999. Peranan Keahlian Teknik Industri Dalam Menyongsong Era Industrialisasi. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia
Wignjosoebroto, Sritomo. 2000. Peran Strategis Teknik IndustriBagi Dunia Industri Di Indonesia  Dalam Menghadapi Persaingan Di Era Pasar Bebas. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November. Diunduh pada http://personal.its.ac.id/files/pub/2851-m_sritomo-ie-PERAN%20PERAN%20STRATEGIS%20DISIPLIN%20TEKNIK%20INDUSTRI.pdf (Tanggal 22 September 2017 Pukul 19.31)

Soal + Jawaban:
1.      Sesuai dengan “nature”-nya, industri bisa diklasifikasikan secara luas yaitu mulai dari industri?
a.       Manufaktur
b.      Jasa
c.       a dan b benar
d.      a dan b salah
2.   Teknik industri memiliki ciri-ciri yang menbedakannya dengan profesi teknik lainnya. Adapun ciri-ciri profesi teknik industri adalah sebagai berikut, kecuali!
a.       Pendekatan sistem
b.      Pendekatan komunikatif
c.       Disiplin enjiniring
d.      Bahasan teknik industri
3.  ABET 2012 - 2013 juga menyebutkan outcome seorang industrial engineer adalah sebagai berikut, kecuali!
a.  Memiliki kemampuan untuk menerapkan pendekatan sistem melalui identifikasi dan perancangan sistem, komponen, atau proses
b.     Memiliki kemampuan untuk melakukan belajar sepanjang hayat
c.      Memiliki pengetahuan tentang issue kontemporer
d.      Memiliki kemampuan komunikatif yang baik.
4.      Ciri-ciri industrial engineering problems dapat disebutkan sebagai berikut, kecuali!
a.     Memiliki kemampuan komunikatif yang baik
b.    Memiliki sejumlah kendala yang menghambat ketercapaian tujuan
c.  Sistem terdiri dari subsistem manusia, bahan (material), mesin/peralatan, informasi, dan energi, atau subsistem yang analog dengan perilaku subsistem tersebut.
d.    Memiliki sejumlah solusi alternatif yang berada pada solusi layak (feasible solutions)
5.      Langkah pemecahan masalah berdasarkan Teknik Industri adalah sebagai berikut!
a.      Pendefinisian masalah
b.      Identifikasi output (karakteristik output). Ini adalah O dalam model IPOF
c.   Identifikasi input yang diperlukan untuk menghasilkan output tersebut. Ini adalah I dalam model IPOF

d.      a, b, dan c benar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar