PROFESI DAN
PROFESIONALISME
A.
Menjelaskan
Mengenai Profesionalisme
Profesionalisme
adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para
anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas
profesionalnya (Saptadi, 2016).
Menurut
Arens et al., (2008), profesionalisme merupakan tanggung jawab untuk bertindak
lebih dari sekedar memenuhi tanggung jawab diri sendiri maupun ketentuan hukum
dan peraturan masyarakat (Arens, 2008).
Profesionalisme
menurut Kamaus Besar Bahasan Indonesia adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk
yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional (KBBI, 2005).
Profesionalisme merupakan sikap dari
seorang profesional, dan profesional berarti melakukan sesuatu sebagai
pekerjaan pokok yang disebut profesi, artinya pekerjaan tersebut bukan pengisi
waktu luang atau sebagai hobi belaka. Jika profesi diartikan sebagai pekerjaan
dan isme sebagai pandangan hidup, maka profesional dapat diartikan sebagai
pandangan untuk selalu berfikir, berpendirian, bersikap dan bekerja
sungguh-sungguh, kerja keras, bekerja sepenuh waktu, disiplin, jujur, loyalitas
tinggi dan penuh dedikasi demi keberhasilan pekerjaannya. Jadi pada dasarnya
profesionalisme berkenaan dengan sikap peduli baik terhadap klien atau pun
terhadap profesinya, Seperti yang diungkapkan oleh David H. Maister bahwa
profesionalisme adalah terutama masalah sikap, bukan seperangkat kompetensi.
Seorang professional sejati adalah seorang teknisi yang peduli (Maister, 1998).
Berdasarkan pemaparan mengenai konsep
profesionalisme, dapat disimpulkan bahwa, yang paling utama profesionalisme
berkenaan dengan 13 sikap dan nilai-nilai yang dimunculkan oleh para
profesional dalam menjalani aktivitas dan tanggung jawab profesinya. Seseorang
dengan profesi tertentu mungkin memiliki keterampilan atau kompetensi yang
tinggi di bidang keahliannya, tetapi dia belum bisa dikatakan profesional
sebelum secara handal dan konsisten mampu mendemonstrasikannya melalui sikap
peduli terhadap klien dan pekerjaannya.
Hall. R mengembangkan konsep
profesionalisme dari level individu
meliputi lima dimesi yaitu (Rifqi, 2008):
a. Pengabdian pada
profesi (dedication), yang tercermin
dalam dedikasi profesional melalui penggunaan pengetahuan dan kecakapan yang
dimiliki. Sikap ini adalah ekspresi dari penyerahan diri secara total terhadap
pekerjaan. Pekerjaan didefinisikan sebagai tujuan hidup dan bukan sekedar
sebagai alat untuk mencapai tujuan. Penyerahan diri secara total merupakan
komitmen pribadi dan sebagai kompensasi utama yang diharapkan adalah kepuasan
rohani dan kemudian kepuasan material.
b. Kewajiban Sosial
(Social obligation), yaitu pandangan
tentang pentingnya paran profesi serta manfaat yang diperoleh baik oleh
masyarakat atau pun oleh profesional karena adanya pekerjaan tersebut.
c. Kemandirian (Autonomy demands), yaitu suatu pandangan
bahwa seorang professional harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa ada
tekanan dari pihak yang lain.
d. Keyakinan
terhadap peraturan profesi (belief in
self-regulation), yaitu suatu keyakinan bahwa yang berwenang untuk menilai
pekerjaan profesional adalah rekan sesama profesi, dan bukan pihak luar yang
tidak mempunyai kompetensi dalam bidang ilmu dan pekerjaan mereka.
e. Hubungan dengan sesama profesi (Professional community affiliation), berarti menggunakan ikatan
profesi sebagai acuan, termasuk organisasi formal dan kelompok-kelompok kolega
informal sebagai sumber ide utama pekerjaan. Melalui ikatan profesi ini para
profesional membangun kesadaran profesinya.
Sementara itu Maister
mengisyaratkan profesionalisme pada level individu meliputi 4 (empat) dimensi
yaitu (Maister, 1998):
a.
Kebanggaan pada
pekerjaan
b.
Komitmen pada
kualitas
c.
Dedikasi pada
kepentingan klien
d. Keinginan tulus untuk membantu
Profesionalisme memiliki beberapa
ciri-ciri. Maister mengatakan bahwa ciri-ciri profesionalisme sejati yaitu (Maister,
1998) :
a. Bangga pada pekerjaan mereka, dan menunjukkan
komitmen pribadi pada kualitas.
b. Berusaha meraih tanggung jawab.
c. Mengantisipasi, dan tidak menunggu perintah, mereka
menunjukkan inisiatif.
d. Mengerjakan apa yang perlu dikerjakan untuk
merampungkan tugas.
e. Melibatkan diri secara aktif dan tidak sekedar
bertahan pada peran yang telah ditetapkan untuk mereka.
f. Selalu mencari cara untuk membuat berbagai hal
menjadi lebih mudah bagi orang yang mereka layani.
g. Ingin belajar sebanyak mungkin mengenai bisnis
orang-orang yang mereka layani.
h. Benar-benar mendengarkan kebutuhan orang-orang yang
layani.
i. Belajar memahami
dan berfikir seperti orang-orang yang mereka layani sehingga bisa mewakili
mereka ketika orang-orang itu tidak ada ditempat.
j. Adalah pemain
tim.
k. Bisa dipercaya memegang rahasia. l. Jujur, bisa
dipercaya dan setia.
l.
Terbuka pada
kritik-kritik yang membangun mengenai cara meningkatkan diri.
Mahfud MD menunjukan
beberapa karakteristik budaya akademis yang berpengaruh terhadap
profesionalisme sebagai berikut (Wangmuba, 2009) :
a. Bangga
atas pekerjaannya dengan komitmen pribadi yang kuat dan berkualitas.
b. Memiliki
tanggungjawab yang besar, antisipatif dan penuh inisiatif.
c. Ingin
selalu menegrjakan pekerjaan dengan tuntas dan ikut terlibat dalam berbagai
peran diluar pekerjaannya.
d. Ingin
terus belajar untuk meningkatkan kemampuan kerja dan kemampuan melayani.
e. Mendengar
kebutuhan pelanggan dan dapat bekerja dengan baik dalam suatu tim.
f. Dapat
dipercaya, jujur, terus terang dan loyal.
g. Terbuka
terhadap kritik yang bersifat konstruktif serta selalu siap untuk meningkatkan
dan menyempurnakan dirinya.
DAFTAR PUSTAKA:
Saptadi, N. Tri Suswanto. 2016. Pengertian Profesi dan Profesionalisme.
Makasar: Universitas Atma Jaya. Diunduh pada http://fti.uajm.ac.id/ajar/Etika%20Profesi%20Komputer/02%20Pengertian%20Profesi%20dan%20Profesionalisme.pdf
(Tanggal 22 September 2017 Pukul 17.22 WIB)
Arens, et al. 2008. Auditing and Assurance Service: An Integrated Approach. Jakarta:
Erlannga.
Hasan, Alwi dkk.
(2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Balai Pustaka.
Maister, H.
David. 1998. True Professionalism.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Rifqi, Muhammad.
2008. Analisis Hubungan antara Profesionalisme
Auditor dengan Pertimbangan Tingkat Materialitas dalam Proses Pengauditan
Laporan Keuangan. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia. Diunduh pada http://journal.uii.ac.id/index.php/Fenomena/article/view/193
(Tanggal 22 September 2017 Pukul 17.41 WIB).
Soal
+ Jawaban:
1. Profesionalisme
adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para
anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas
profesionalnya. Merupakan pengertian dari?
a. Arens,
et al.
b. Muhammad
Rifqi
c. Maister
d. Saptadi
2. Profesionalisme
menurut Kamaus Besar Bahasan Indonesia mencakup?
a. Mutu
b. Kualitas
c. a dan b benar
d. a
dan b salah
3. Hall. R mengembangkan konsep profesionalisme dari
level individu meliputi lima dimesi,
kecuali?
a. Pengabdian pada profesi
b. Kejujuran
c. Kewajiban sosial
d. Kemandirian
4. Maister
mengatakan bahwa ciri-ciri profesionalisme sejati yaitu. Kecuali?
a. Sebagai sarana
menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang
b.
Berusaha meraih
tanggung jawab.
c.
Mengantisipasi,
dan tidak menunggu perintah, mereka menunjukkan inisiatif.
d.
Bangga pada
pekerjaan mereka, dan menunjukkan komitmen pribadi pada kualitas.
5. Mahfud MD menunjukan beberapa karakteristik budaya
akademis yang berpengaruh terhadap profesionalisme sebagai berikut, kecuali?
a. Ingin
selalu menegrjakan pekerjaan dengan tuntas dan ikut terlibat dalam berbagai
peran diluar pekerjaannya.
b. Ingin
terus belajar untuk meningkatkan kemampuan kerja dan kemampuan melayani.
c. Mendengar
kebutuhan pelanggan dan dapat bekerja dengan baik dalam suatu tim.
d. Mengerjakan
apa yang perlu dikerjakan untuk merampungkan tugas.
B.
Menjelaskan
Ciri-Ciri Dari Seorang Profesional Di Bidang Teknik Secara Umum
Sebuah profesi
pasti memiliki ciri-ciri yang membedakan antara satu profesi dengan profesi
lainnya. Ciri-ciri profesi bidang teknik pasti berbeda dengan profesi bidang hukum.
Adapun ciri-ciri seorang profesionanal di bidang teknik secara umum adalah
sebagai berikut (Kurniawan, 2005).
1. Keterampilan
yang berdasar pada pengetahuan teoretis, Seorang professional harus memiliki
pengetahuan teoretis dan keterampilan mengenai bidang teknik yang ditekuni dan bisa
diterapkan dalam pelaksanaanya atau prakteknya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Asosiasi
Profesional, Merupakan suatu badan organisasi yang biasanya diorganisasikan
oleh anggota profesi yang bertujuan untuk meningkatkan status para anggotanya.
3. Pendidikan yang
Ekstensi, Profesi yang prestisius biasanya memerlukan pendidikan yang lama
dalam jenjang pendidikan tinggi. Seorang professional dalam bidang teknik
mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi baik itu dalam suatu pendidikan
formal ataupun non formal.
Menurut
artikel dalam International Encyplodia of
Education, ada 10 ciri-ciri profesi bidang teknik secara umum, yaitu (Kusuma,
2004):
1. Suatu bidang
pekerjaan yang terorganisir dari jenis intelektual yang terus berkembang dan
diperluas
2.
Suatu teknik
intelektual
3.
Penerapan
praktis dari teknik intelektual pada urusan praktis
4.
Suatu periode
panjang untuk pelatihan dan sertifikasi
5.
Beberapa standar
dan pernyataan tentang etika yang dapat diselenggarakan
6.
Kemampuan untuk
kepemimpinan pada profesi sendiri
7. Asosiasi dari
anggota profesi yang menjadi suatu kelompok yang erat dengan kualitas
komunikasi yang tinggi antar anggotanya
8.
Pengakuan
sebagai profesi
9.
Perhatian yang
profesional terhadap penggunaan yang bertanggung jawab dari pekerjaan profesi
10. Hubungan yang erat dengan profesi lain
DAFTAR PUSTAKA:
Kurniawan, Defri. 2017. Etika, Etika
Profesi, Dan Kode Etik Perekam Medis. Semarang: Universitas Dian Nuswantoro. Diunduh
pada: http://dinus.ac.id/repository/docs/ajar/etika_profesi.pdf (Tanggal 22
September 2017 Pukul 18.43 WIB).
Kusuma, Tubagus Maulana. 2004. Etika Dan
Profesionalisme Dalam Teknologi Sistem
Komputer/ Informasi. Depok: Universitas Gunadarma. Diunduh pada: mkusuma.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/11837/W01-Pengertian+Etika.pdf
(Tanggal 22 September 2017 Pukul 18.46 WIB)
Soal
+ Jawaban:
1. Ciri-ciri
seorang profesionanal di bidang teknik secara umum menurut Kurniawan adalah
sebagai berikut, kecuali!
a. Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis
b. Wawasan
c. Asosiasi Profesional
d. Pendidikan yang Ekstensi
2. Profesi yang prestisius biasanya memerlukan
pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi. Seorang professional
dalam bidang teknik mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi baik itu
dalam suatu pendidikan formal ataupun non formal. Merupakan pengertian dari?
a.
Keterampilan
yang berdasar pada pengetahuan teoretis
b.
Wawasan
c.
Asosiasi
Profesional
d.
Pendidikan yang Ekstensi
3. Merupakan suatu badan organisasi yang biasanya
diorganisasikan oleh anggota profesi yang bertujuan untuk meningkatkan status
para anggotanya. Merupakan pengertian dari?
a. Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis
b. Wawasan
c.
Asosiasi Profesional
d. Pendidikan yang Ekstensi
4. Keterampilan
yang berdasar pada pengetahuan teoretis, Seorang professional harus memiliki
pengetahuan teoretis dan keterampilan mengenai bidang teknik yang ditekuni dan bisa
diterapkan dalam pelaksanaanya atau prakteknya dalam kehidupan sehari-hari.
a.
Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis
b. Wawasan
c. Asosiasi Profesional
d. Pendidikan yang Ekstensi
5. Menurut
artikel dalam International Encyplodia of
Education, ada 10 ciri-ciri profesi bidang teknik secara umum, yaitu
kecuali!
a. Hubungan yang erat dengan profesi lain
b. Suatu teknik intelektual
c. Penerapan praktis dari teknik intelektual pada
urusan praktis
d. Memiliki kemampuan
komunikasi
C.
Menjelaskan
Mengenai Ciri-Ciri Dari Seorang Profesional Di Bidang Teknik Industri Secara
Khusus
Sebagai
disiplin ilmu keteknikan yang tergolong “baru”, profesi Teknik Industri lahir
sejak ada persoalan produksi, sejak manusia harus mewujudkan sesuatu untuk
memenuhi keperluan hidupnya, dan sejak manusia ada (Taroepratjeka, 1999).
Sesuai
dengan “nature”-nya, industri bisa
diklasifikasikan secara luas yaitu mulai dari industri yang menghasilkan
produk-barang fisik (manufaktur) sampai ke produk-jasa (service) yang nonfisik. Industri juga bisa kita bentangkan dalam
pola aliran hulu-hilir sampai ke skala kecil-menengah-besar. Demikian juga
problematika yang dihadapi oleh industri --- yang kemudian menjadi fokus kajian
disiplin Teknik Industri --- bisa terfokus dalam ruang lingkup mikro (lantai
produksi) dan terus melebar luas mengarah ke problematika manajemen produksi
(perencanaan, pengorganisasian, pengoperasian dan pengendalian sistem produksi)
yang harus memperhatikan sistem lingkungan (aspek politik-sosial-ekonomi-budaya
maupun hankam) dalam setiap langkah pengambilan keputusan berdimensi strategik.
Disiplin Teknik Industri melihat setiap persoalan dengan metode pendekatan
sistem dimana segala keputusan yang diambil juga selalu didasarkan pada aspek
teknis (engineering area) dan aspek non-teknis. Wawasan “Tekno-Sosio-Ekonomi”
akan mewarnai penyusunan kurikulum pendidikan Teknik Industri dan merupakan
karakteristik yang khas yang menggambarkan ciri keunggulan serta membedakan
disiplin ini dengan disiplindisiplin keteknikan yang lainnya (Wignjosoebroto,
2000).
Teknik industri
memiliki ciri-ciri yang menbedakannya dengan profesi teknik lainnya. Adapun ciri-ciri
profesi teknik industri adalah sebagai berikut (Halim, 2012).
1. Pendekatan
Sistem
Teknik
industri dapat dilihat sebagai sebuah pendekatan atau cara pikir dalam proses
pemecahan masalah real world melalui strukturisasi permasalahan dan pencarian
solusi terhadap masalah tersebut. Strukturisasi permasalahan disebut proses
pemodelan dan pencarian solusi bagi masalah real world dilakukan melalui
pencarian solusi bagi model. Kegagalan dalam strukturisasi masalah akan
menyebabkan model yang dihasilkan tidak realistik, dan, pada gilirannya, solusi
yang dihasilkan hanya solusi untuk model, bukan solusi untuk masalah real
world.
2. Disiplin
Enjiniring
Secara eksplisit ABET 2012 - 2013 menyebutkan bahwa seorang
industrial engineer harus mampu
melakukan perancangan, pengembangan, penerapan dan perbaikan sistem integral
yang terdiri dari manusia, bahan (meterial), informasi, peralatan dan energi. ABET
2012 - 2013 juga menyebutkan outcome seorang
industrial engineer adalah sebagai
berikut:
a. Memiliki
kemampuan untuk menggunakan matematika, sains dan prinsip enjiniring dalam
memecahkan masalah teknik industri (industrial
engineering problems)
b.
Memiliki
kemampuan untuk merancang dan menjalankan percobaan, serta menganalisis dan
menginterpretasikan data dalam rangka pemecahan masalah teknik industri
c. Memiliki
kemampuan untuk menerapkan pendekatan sistem melalui identifikasi dan
perancangan sistem, komponen, atau proses
d.
Memiliki
kemampuan untuk berperan dalam team multidisiplin
e. Memililiki
kemampuan untuk melakukan identifikasi, formulasi, dan pemecahan masalah teknik
industri melalui pendekatan sistem
f.
Memiliki
pemahaman tanggungjawab profesional dan etika
g.
Memiliki
kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif
h. Memiliki
kemampuan untuk memahami dampak solusi yang dihasilkan terhadap konteks global,
ekonomi, lingkungan dan sosial
i.
Memiliki
kemampuan untuk melakukan belajar sepanjang hayat
j.
Memiliki
pengetahuan tentang issue kontemporer
k. Memiliki
kemampuan untuk menggunakan pendekatan, teknik, keterampilan, dan alat modern
dalam rangka pemecahan masalah teknik industri
3.
Bahasan Teknik Industri
Permasalahan yang dipecahkan oleh seorang industrial engineer tidak terbatas hanya
kepada suatu sistem tertentu. Teknik Industri bukan hanya digunakan pada bidang
manufaktur, tetapi dapat digunakan pada industri jasa, organisasi non-profit
dan pemerintahan. Jadi batasan sistem yang ditangani oleh bidang Teknik
Industri ini bukan terletak pada obyek atau metoda solusi tetapi terletak pada
ciri sistem. Sepanjang ciri sistem ini ditemukan pada bidang apapun, maka
Teknik Industri dapat diterapkan. Ciri-ciri industrial
engineering problems dapat disebutkan sebagai berikut:
a. Sistem terdiri dari subsistem manusia, bahan
(material), mesin/peralatan, informasi, dan energi, atau subsistem yang analog
dengan perilaku subsistem tersebut
b. Memiliki tujuan atau kriteria yang ingin dicapai,
baik single maupun multiple objectives
c. Memiliki sejumlah kendala yang menghambat
ketercapaian tujuan
d. Memiliki sejumlah solusi alternatif yang berada pada
solusi layak (feasible solutions)
e. Pemilihan sebuah atau beberapa alternatif
menyebabkan kehilangan kesempatan untuk mendapat manfaat dari
alterntif-alternatif lain yang tidak dipilih (trade off di antara solusi
alternatif yang tersedia)
Teknik Industri juga
bisa dilihat sebagai ilmu yang melakukan pencarian solusi optimal (near optimal
atau acceptable solutions) dari permasalahan pada sistem kompleks. Langkah
pemecahan masalah berdasarkan Teknik Industri adalah sebagai berikut:
a.
Pendefinisian
masalah
b.
Identifikasi
output (karakteristik output). Ini adalah O dalam model IPOF
c. Identifikasi
input yang diperlukan untuk menghasilkan output tersebut. Ini adalah I dalam
model IPOF
d. Perancangan
sistem yang akan melakukan konversi input menjadi output. Kriteria perancangan
sistem adalah efisien, efektif, dan berkelanjutan (sustainable, robust). Ini
adalah P dalam model IPOF
e. Peninjauan ulang
setiap saat dalam rangka perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Ini
adalah F dalam model IPOF
Langkah-langkah inipun bersifat generik
dan dapat diberlakukan pada sistem apapun. Sifat generik ini tidak berarti
bahwa seorang industrial engineer adalah seorang yang super yang dapat
memecahkan masalah apapun, tetapi dapat dikatakan bahwa seorang industrial
engineer adalah orang yang menguasai sebuah metodologi yang dapat diterapkan
pada sistem apapun. Jadi penguasaan metodologi ini merupakan necessary
condition bagi kesuksesan seorang industrial engineer dalam menjalankan
profesinya (Halim, 2012).
DAFTAR PUSTAKA
Halim, Abdul
Hakim. 2012. Menuju Penyusunan Strategi
Peningkatan Daya Saing Pendidikan Tinggi Teknik Industri. Bandung: Institut
Teknologi Bandung. Diunduh pada http://bkti-pii.or.id/home/wp-content/uploads/2014/06/Menuju-Penyusunan-Strategi-Peningkatan-Daya-Saing-Pendidikan-Tinggi-Teknik-Industri.pdf
(Tanggal 22 September 2017 Pukul 19.27 WIB)
Taroepratjeka.
H., 1999. Peranan Keahlian Teknik
Industri Dalam Menyongsong Era Industrialisasi. Yogyakarta: Universitas
Islam Indonesia
Wignjosoebroto,
Sritomo. 2000. Peran Strategis Teknik IndustriBagi Dunia Industri Di
Indonesia Dalam Menghadapi Persaingan Di
Era Pasar Bebas. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November. Diunduh pada http://personal.its.ac.id/files/pub/2851-m_sritomo-ie-PERAN%20PERAN%20STRATEGIS%20DISIPLIN%20TEKNIK%20INDUSTRI.pdf
(Tanggal 22 September 2017 Pukul 19.31)
Soal + Jawaban:
1.
Sesuai dengan “nature”-nya, industri bisa
diklasifikasikan secara luas yaitu mulai dari industri?
a.
Manufaktur
b.
Jasa
c.
a dan b benar
d.
a dan b salah
2. Teknik industri memiliki ciri-ciri yang
menbedakannya dengan profesi teknik lainnya. Adapun ciri-ciri profesi teknik
industri adalah sebagai berikut, kecuali!
a.
Pendekatan sistem
b.
Pendekatan komunikatif
c.
Disiplin enjiniring
d.
Bahasan teknik industri
3. ABET 2012 - 2013
juga menyebutkan outcome seorang industrial engineer adalah sebagai
berikut, kecuali!
a. Memiliki
kemampuan untuk menerapkan pendekatan sistem melalui identifikasi dan
perancangan sistem, komponen, atau proses
b. Memiliki
kemampuan untuk melakukan belajar sepanjang hayat
c. Memiliki
pengetahuan tentang issue kontemporer
d.
Memiliki
kemampuan komunikatif yang baik.
4.
Ciri-ciri industrial engineering problems dapat
disebutkan sebagai berikut, kecuali!
a. Memiliki kemampuan
komunikatif yang baik
b. Memiliki sejumlah kendala yang menghambat
ketercapaian tujuan
c. Sistem terdiri dari subsistem manusia, bahan
(material), mesin/peralatan, informasi, dan energi, atau subsistem yang analog
dengan perilaku subsistem tersebut.
d. Memiliki sejumlah solusi alternatif yang berada pada
solusi layak (feasible solutions)
5.
Langkah
pemecahan masalah berdasarkan Teknik Industri adalah sebagai berikut!
a. Pendefinisian
masalah
b.
Identifikasi
output (karakteristik output). Ini adalah O dalam model IPOF
c. Identifikasi
input yang diperlukan untuk menghasilkan output tersebut. Ini adalah I dalam
model IPOF
d.
a, b, dan c
benar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar